Lompat ke konten

Sulitnya Membatasi Naluri Sosial

IPMJATIM.OR.ID-Sebelum menyentuh pada pokok bahasan, di awal ini saya meyakini bahwa siapa saja yang membaca tulisan ini, pasti sudah mengetahui tentang Covid-19 (Coronavirus Disease 2019). Selain menjadi pokok perbincangan seluruh masyarakat, virus ini juga telah menyebar dengan cepat di Indonesia. Saat ini jumlah kasus positif virus corona di Indonesia per 28 Maret 2020 mencapai 1155 kasus, dari jumlah itu 59 pasien sembuh dan 102 meninggal dunia. Mengutip dari Kompas.com, Presiden Joko Widodo menegaskan untuk terus menggencarkan kebijakan beraktivitas produktif dari rumah untuk menekan penyebaran virus tersebut.

Selaras dengan itu, social distancing atau jarak sosial menjadi populer sebagai jalan efektif untuk mencegah efek coronavirus yang terus melebar. Secara sederhana berarti pembatasan pada lingkup sosial. Mengutip dari tulisan Apoorva Mandavilli, “Wondering About Social Distancing?” pada New York Times, dia memunculkan pendapat Dr. Gerardo Chowell, ketua Population Health Sciences di Georgia State University, yang menjelaskan setiap satu pengurangan dalam kontak yang dilakukan per hari dengan kerabat, teman, rekan kerja, di sekolah yang berdampak signifikan pada penyebaran virus dalam masyarakat.

Pada kenyataannya kebijakan social distancing tidak bertahan lama. Berawal pada sebuah konferensi pers yang disampaikan oleh Dr. Maria Van Kerkhove dari World Health Organization (WHO), bahwa secara resmi menggunakan frasa “physical distancing” yang berarti “jarak fisik” dari pada “social distancing” – dikutip dari CTVNews. Hal tersebut bermaksud menegaskan untuk menjaga jarak fisik dari orang-orang, sehingga dapat mencegah virus. Jauh secara fisik dari orang lain merupakan hal yang sangat penting, tetapi itu tidak berarti bahwa secara sosial harus memutuskan hubungan dengan orang-orang.

Lantas, bagaimana menurut kalian? mengapa kata social digantikan dengan physical? Bukankah istilah social distancing selama ini sepertinya lazim-lazim saja? Maka dari itu, selain penjelasan dari Van Kerkhove, dalam tulisan ini saya akan menghadirkan alasan-alasan lain yang membuat physical distancing menjadi frasa yang lebih pas. Mari kita bincangkan.

Pertama, sebagai awalan saya ingin memunculkan konsep manusia sebagai makhluk sosial (human as social being). Dalam QS. al-Hujurat ayat 13 dijelaskan bahwa Allah SWT menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Selain itu Aristoteles juga memberi istilah “Zoon Politicon”. Zoon berarti hewan dan Politicon sendiri ialah masyarakat. Sehingga memberi definisi bahwa manusia ditakdirkan untuk saling berinteraksi dalam hidup bermasyarakat. Untuk menghilangkan diksi hewan pada manusia, dia juga mengenalkan “Zoon Logikon” yaitu hewan yang rasional atas kepemilikan akal yang melekat.

Kedua, mencicipi pemikiran Emmanuel C. Lallana, dalam bukunya yang berjudul The Information Age. Dia memaparkan bahwa Internet dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi bisa menciptakan Individu berdaulat (Sovereign Individuals) yaitu individu yang berdaya. Karena mereka memiliki akses menuju peluang pembelajaran yang baru; mampu untuk menjual ide-ide, layanan, atau produk mereka secara langsung; dan bisa mengakses informasi medis untuk kesehatannya. Sovereign Individuals ini juga memiliki informasi yang andal dan terkini tentang kebijakan dan program pemerintah yang memungkinkan mereka untuk menjadi masyarakat yang lebih baik.

Ketiga, konsep Global Village yang digagas oleh Marshall McLuhan. Pada Encyclopedia of Media and Communication, T Gibson dan S.J Murray menjelaskan konsep Global Village bahwa manusia menjadi semakin terkoneksi oleh kemajuan teknologi yang menghilangkan batas ruang dan waktu sehingga dunia yang luas seolah menjadi desa yang sangat kecil. Diksi desa (village) dipilih untuk merepresentasikan sebuah skala kecil yang mampu menciptakan interaksi sosial dengan mudah dan leluasa. Meskipun istilah desa global sudah lama digaungkan, saya tertarik mengangkatnya kembali untuk menyandingkannya dengan kebijakan “produktif di rumah”. Sebut saja “Global House”. Dari rumah kita bisa membangun interaksi sosial dan memperoleh informasi yang tidak terbatas.

Keempat, walau dalam kondisi social distancing, Banyak ditemukan aksi sosial yang luar biasa. Pada tulisan “Don’t Call it Social Distancing” – yang dimuat dalam CNN – memaparkan bahwa, “dalam keadaan sulit yang kita hadapi sekarang, kita masih dapat terhubung dan mengambil tanggung jawab sosial – bahkan ketika kita berusaha untuk menjaga jarak secara fisik. Tanggung jawab sosial dan konektivitas muncul dalam berbagai bentuk, dan mereka berjalan beriringan dengan empati, kasih sayang, dan kemanusiaan.” Sangat menyentuh, bukan?
Kelima, lagi pula saya setuju dengan argumen Dr Chaudhary, yang dimuat dalam tulisan Mandavilli. Menurutnya, “It’s important to note that social distancing does not mean social isolation.” Artinya penting untuk dicatat bahwa social distancing bukan berarti isolasi sosial. Dalam pandangannya, tersirat sebuah kalimat pembelaan terhadap terjalinnya kehidupan sosial. Sangat jelas dia ingin menyampaikan bahwa sebenarnya kebijakan social distancing tidak menghentikan kehidupan sosial. Sekali lagi, ini bukan isolasi sosial.

Begitu juga IPM. Dalam menyikapi kebijakan produktif di rumah, IPM tidak pernah melakukan pembatasan sosial. Sebaliknya, malah gencar melakukan aksi sosial melalui cara-cara yang kreatif melalui kemajuan teknologi. Hal itu ditujukan untuk mengganti ruang intelektual dan pergerakan pelajar yang terhenti karena kebijakan tidak diperbolehkannya berkumpul secara fisik. Seperti, diskusi online “Ruang Kelas IPM” yang banyak memberi pencerdasan bagi pelajar Jawa Timur. Ini mengartikan bahwa selama ini, IPM menyadari betul bahwa maksud yang sebenarnya dari social distancing ialah menjaga jarak dan tidak pernah menghentikan interaksi sosial.

Penerapan frasa social distancing yang kurang pas ini, sama sekali tidak membuat manusia hilang interaksi satu sama lain. Ini membuktikan bahwa manusia memiliki naluri sosial yang kuat dan tidak bisa dibatasi. Bahkan, kebijakan dunia yang sudah berjalan pun telah berubah karenanya. Sebagai catatan, saya pikir kebijakan social distancing tidak pernah bertujuan untuk membatasi interaksi sosial yang luas. Karena secara definisi memang bermaksud untuk membatasi jarak fisik saja. Barangkali ini hanya persoalan kurangnya pengerucutan kata “sosial” kepada “fisik”. Sehingga, dengan menggunakan physical distancing, makna yang terkandung bisa disampaikan secara baik. Ini semua berkat naluri sosial manusia.

Oleh :

Ferry Martasonar

Ketua Bidang PIP IPM Jatim 2018-2020

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: