Lompat ke konten

Teologi Dakwah di Dasar Generasi Milenial

Oleh : Fakhur Rizky
PC IPM Socah

Dakwah dalam islam merupakan tugas yang wajib diemban oleh setiap kader muda islam, di dalamnya butuh sebuah pengorbanan dan penuh kerja keras guna menghindari reduksi ajaran islam di dalam sebuah mayarakat. Dakwah secara makna peyorasi juga merupakan ajakan tetapi, ajakan yang dimaksud merupakan ajakan yang berujung kemungkaran, maka dari itu seorang movers dakwah harus bertekad menyediakan, menghadiri, dan menstrategi sebuah dakwah secara makna substansi. Dakwah sendiri juga membutuhkan seorang mover yang disebut Da`i. Seorang Da`i tentulah menjadi seorang khalifah di tengah masyarakat, begitu juga dengan kepribadian dan pola pemikiran yang hukumnya wajib kritis apabila menhadapi generasi Y dan Z seperti masa sekarang ini. Butuhlah seorang figur pendakwah yang berintelektual serta mempunyai pemikiran dalam jangka panjang dan kritis yang dapat mengubah pola pemikiran dan pola hidup suatu lapisan masyarakat agar terhindar dari intimidasi peradaban islam yang akan mendatang
Seorang Da`i di dalam hidupnya pasti terpandang oleh masyarakat, bahkan seorang Da`i haruslah memiliki keilmuan dalam bidang teologi, kondisi sosial masyarkat dlm zona yang tentunya tidak sempit, dan juga peradaban zaman. Di dalam dakwah generasi masa kini, dimana individu mempunyai daya fikir yang maju dan juga tidak sedikit timbulnya pemikiran peyorasi yang memiliki tendensi kearah luar ajaran murni islam yang telah nabi Muhammad S.A.W. sampaikan, Da`i wajiblah juga memiliki kesiapan strategi dakwah yang harus slalu update, artinya seorang Da`i harus menyajikan dakwah yang fresh, abadi,dan tidak tertelan zaman bagi masyarakat. umumnya masyarat mengenal dakwah adalah sebuah majelis yang mengundang beberapa orang ke dalam suatu majelis tersebut yang di dalamnya berisi ceramah seputar ajaran islam namun, kelemahan dari cara berdakwah apabila penceramah atau pemateri telah wafat maka ajaran tersebut musnah bersama jasadnya selain itu, zona penyebaran materi tidak begitu luas, hanya sebatas lingkup internal jamaah yang mengikuti majelis taklim tersebut. dan tidak sedikit pula mejelis yang mengalami dekadensi, baik dari segi jamaah maupun dari segi materi yang semakin sirna.
Sebuah dakwah di zaman millenial membutuhkan sifat yang abadi dengan definisi murni serta segar dan eksistensinya diakui oleh masyarakat eksternal maupun internal. Dakwah yang kita butuhkan adalah dakwah yang bersifat abadi, artinya sampai kapan pun materi itu tetap ada meski dibutuhkan di jauh-jauh hari dan dapat di mengerti oleh orang lain secara komprehensif. menurut sebuah riset yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation, tahun sebelumnya juga pernah dilakukan penelitian yang sama oleh Pew Research Center dengan judul Millennials: A Portrait of Generation Next menyatakan bahwa generasi milenial merasa wajib mempunyai akun media sosial. Sebagian besar generasi milenial juga mempunya kebiasaan bosan membaca, hal ini mereka anggap sesuatu yang amat membosankan meskipun diantara mereka juga masih ada juga yang bersifat kutu buku tetapi, tidak semua diantara mereka menggunakan buku yang real melainkan buku elektronik seperti e-book. Generasi milenial lebih bertendensasi menyukai kepada sebuah gambar terlebih lagi pada gambar yang penuh dengan warna. Di dalam penelitian tersebuat pula generasi milenial juga lebih memprioritaskan handphone dari pada opsi alat elektronik lain seperti laptop maupun televisi. Tidak heran generasi penerus memilih opsi tersebut, karena itu adalah suatu hal yang begitu logis. Jika berbicara soal generasi, generasi milenial bukan lah termasuk generasi yang menyukai suatu hal yang berbau membosankan. Lain halnya dengan generasi sebelumnya yakni Baby Boomers tetapi, menurut hasil riset yang dilakukan oleh peneliti yang sama menunjukkan bahwasnya generasi milenial telah menduduki setidaknya 75% kursi manager dengan cara bekerja secara efektif tanpa loyalitas.
Dari beberapa riset tersebut dapat kita simpulkan bahwa generasi yang kita hadapi adalah generasi yang dekat dengan alat pengubah dunia secara instan dengan dampak yang masif tidak lain dan tidak bukan adalah handphone genggam, dimana alat tersebut lebih memprioritaskan sosial media dan dunia maya, ditambah lagi dengan sebuah riset dari lembaga e-marketer, populasi netter {pengguna internet} telah mencapai 83,7 juta orang pada tahun 2014. Seperti tadi sebelumnya, dakwah mebutuhkan  sifat yang abadi lalu, pertanyaan intinya adalah, bagaimana suatu dakwah tersebut bersifat abadi ?. jawabannya adalah melalui tulisan, dengan tulisan selamanya akan tetap ada pada secarik kertas, analoginya yaitu seperti candi yang dibuat oleh suatu kerajaan dimana candi tersebut tetap ada meskipun pembuatnya telah wafat berabad-abad yang lalu, seperti kutipan dari Pramudya Ananta Noor “Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah”. Namun, permasalahan terbesarnya bukan itu melainkan sifat generasi milenial yang bisa dikatakan mempunyai hasrat yang terlalu dangkal terhadap suatu literasi, dikarenakan paradigma mereka terpancar pada media sosial atau dengan kata lain mereka proaktif kepada media sosial sedangkan, tanpa pencerahan dan ajaran-ajaran islam sama saja mereka terjun kepada sebuah dunia kegelapan dan itu amat krusial. Maka dari itu sebagai Da`i ulung wajib lah hukumnya menyediakan tulisan tersebut ke dalam dunia maya karena dengan menyediakan suatu tulisan/artikel tersebut ke dalam sebuah kegelapan maka sebagian  besar netter akan tercerahkan. Keberhasian seorang pendakwah dunia maya dilihat dari viewers, jumlah netter yang menshare artikel tersebut, dan yang paling penting dari segalanya adalah ketika kita mampu membuat netter mengerti tentang artikel tersebut apalagi jika mereka mulai berhijrah ke pada kebaikan. Salah satu permasalahan pendakwah dunia maya yaitu ketika mereka memberikan sebuah artikel yang bisa dikatakan terlalu banyak atau bertele-tele sehingga pembaca menjadi  jenuh, dan al hasil mereka tidak komprehensif dalam menerima materi, di saat seperti inilah Da`i dunia maya harus berfikir kritis!. Jika sebagian orang telah jenuh melihat deretan kata dan huruf maka yang harus kita lakukan adalah mengkemasnya menjadi lebih sederhana yaitu menjadi sebuah quotes dengan bahasa yang keren sehingga intuisi netter lebih komprehensif selain itu, rangka berdakwah di dasar media sosial menjadi terbantu oleh netter yang telah termotivasi tersebut.
Permasalahan cukup rumit selalu datang sebagai tantangan dakwah di era modern yang berpenghuni milenial people, salah satunya adalah timbulnya rasa kebosanan netter terhadap tulisan/artikel yang disediakan agar tidak terjadi dekadensi dalam viewers artikel, hal seperti ini bisa saja terjadi. Video juga adalah media alternatif penyampaian risalah islamiyah dalam ranah dunia maya. Mungkin cara berdakwah dengan video eksistensinya sama seperti ceramah hanya saja berada pada ranah yang lebih luas. Akan tetapi, pemikiran kreatif, kritis, dan inovatif wajib lah menjadi hal pembeda dengan dakwah yang dibawakan oleh baby boomers people. Materi harus dapat dimengerti oleh para viewers tetapi, penataan materi merupakan tantangan selanjutnya oleh para Da`i milenial karena pengonsepan materi adalah dengan gaya berbicara dan dakwah zaman sekarang tetapi masih berpedoman pada al quran dan as-sunnah, banyak akun yang telah menerapkan cara dakwah tersebut antara lain Hawariyyun, ust. Felix siauw, Hanan Attaki, dan lain sebagainya. Dan tidak sedikit pula para movers dakwah menggunakan sebuah video kompilasi islamiyah yang seperti sebuah dialog milenial dimana netter setelah mendengarkan dan melihat dialog tersebut secara visual akan terpancing berfikir kedepan dan menganalisa setiap kata dalam dialog tersebut, dan faktanya cara tersebut sangat efisiensi.
Waktu akan terus berjalan dengan menjinjing peradaban zaman dengan dibuntuti oleh lahirnya generasi-generasi penerus. Dunia dakwah akan terus selamanya berkembang.Pada peradaban ini generasi milenial akan mengambi alih dakwah tersebut, dengan berbekal akal, fikiran, dan media. Serta mempunyai amanah al-quran dan sunnah nabi yang harus mereka eksistensikan secara inovatif. Dan pada masa sekarang di saat para ulama menyampaikan risalah agama di atas mimbar kita sebagai generasi Y dan Z mempunyai media sosial sebagai sebagai tempat menuangkan ajaran islamiyah bersanding dengan jiwa edukatif yang berkualitas.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: