Terpaksa Jadi Konten Kreator Saat Pandemi

IPMJATIM.OR.ID – Biasanya sesuatu yang dilakukan secara terpaksa maka hasilnya akan berujung pada kekecewaan, namun kali ini justru menghasilkan suatu karya. Wah, bagaimana bisa?

Banyak sekali organisasi dalam level manapun baik itu organisasi pelajar atau bahkan sampai organisasi pemerintahan sekalipun harus merumahkan kegiatan dan program kerjanya masing–masing. Para aktivis organisasi khususnya aktivis IPM tentu mau tidak mau harus membungkus organisasi tetap menjadi sebuah hal yang diminati oleh kalangan pelajar dengan cara yaitu beradaptasi, berinovasi dan berkreasi.

Bisa dengan cara merubah program kerja yang sudah direncanakan sebelumnya menjadi program kerja dengan metode pelaksanaan yang berbasis daring, meskipun event besar seperti taruna melati sangat tidak mungkin untuk dilaksanakan secara daring namun bukan berarti jadi alasan untuk matinya organisasi.

Belakangan ini banyak dijumpai poster–poster tentang diskusi atau kajian daring dengan narasumber atau pembicara yang luar biasa seperti Zulkifli Hasan (Ketua Umum PAN) hingga tokoh seperti Emil Dardak (Wakil Gubernur Jatim), bisa kita lihat bahwa meskipun dengan segala keterbatasan dalam program kerja daring seperti diskusi daring pun justru bisa diakselerasikan dengan mengundang narasumber hebat yang jaraknya jauh. Berbeda dengan kajian atau diskusi yang biasa dilaksanakan sebelum pandemi yang sulit jika mendatangkan narasumber dari jauh, justru diskusi daring harus terus dikembangkan dengan inovasi yang lebih wow lagi.

Secara tidak langsung maka IPM dipaksa oleh keadaan pandemi ini untuk menjadi content creator, sudah banyak yang saya jumpai bahwa IPM berevolusi menjadi sebuah organisasi yang mengadakan kegiatan kreatif dan inovatif dengan memanfaatkan media daring sebagai wadah untuk mendistribusikan karya dan program kerjanya.

Perubahan yang cukup signifikan terjadi ketika para pengurus IPM kebingungan dengan periodesasi yang diperpanjang dan program kerja yang tertunda, namun sekali lagi perlu ditegaskan bahwa pandemi bukan menjadi alasan untuk matinya organisasi. Justru ditengah pandemi seperti ini, IPM harus melaksanakan double job yaitu merawat ghirah kader–kader yang kian lengah karena sudah jarang lagi berkumpul dan berkegiatan.

Selanjutnya adalah merawat organisasi yang diambang terbengkalai karena sulit untuk men-daring-kan kegiatan program kerja. Banyak juga kader yang masih berpikir bahwa pandemi ini hanya bersifat sementara saja, sehingga tak perlu memikirkan kegiatan apa yang harus dilakukan selama pandemi. Melainkan lebih memilih untuk berimajinasi dan merancang kegiatan apa yang perlu dilakukan setelah pandemi ini berakhir, padahal bukan rahasia lagi kalau pandemi ini bakal berjalan cukup lama dan bukan bersifat sementara.

Maka dari itu seharusnya jangan berpikir tentang bagaimana kegiatan ketika pandemi ini berakhir, tetapi justru harus memaksimalkan kreatifitas dan inovasi program kerja dan kegiatan ditengah pandemi ini dan berlomba–lomba menuju aktivitas positif yang kreatif.

Siapa tahu ketika nanti misalkan IPM beramai–ramai membuat konten di channel YouTube terus bisa memperoleh silver button dan dapat dimonetisasi yang hasilnya cukup lumayan juga, atau justru diundang dan diliput oleh beberapa media dan influencer lain maka nama IPM akan semakin melejit tinggi dan dikenal oleh banyak orang akan kreatifitasnya. Muhammadiyah tidak kurang branding dalam mendakwahkan nilai dan ajarannya, tetapi terkadang Muhammadiyah juga butuh influencernya sendiri dan itu bisa dimulai dari kader–kader muda di IPM.

Influencer nyatanya lebih sering didengarkan dibandingkan dengan para Da’i sekalipun, maka dari itu jika diperhitungkan bahwa IPM akan dikemas menjadi organisasi pencetak influencer–influencer muda Muhammadiyah maka dampaknya akan signifikan pada kalangan milenial. Dengan begitu maka dakwah dan persebaran nilai ajaran Muhammadiyah bisa dengan mudah diterima dan masuk dalam hati kalangan muda seperti halnya budaya pop yang juga mudah sekali dihafalkan dan diaplikasikan.

Oleh:

Muhammad Harish Ishlah

Kabid Advokasi PD IPM Gresik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *