Tradisi Keilmuan IPM: Menjawab Tantangan yang Selalu Baru

IPMJATIM.OR.ID – Masih dalam nuansa milad Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) yang ke-59, sebuah waktu yang tepat untuk melakukan perenungan dan muhasabah diri. Selain kita berbondong-bondong mengucapkan selamat milad dan memajang twibbon di setiap lini digital, tentu saja memerlukan hal yang lebih esensial. Seperti, menyadari corak gerakan IPM dalam membangun peradaban pelajar dengan segala dinamikanya.

Seperti yang dipahami, era tidak pernah berhenti berkembang. Tren sekarang jelas berbeda dengan tren saat kita masih belajar mengunyah. Bahkan dalam kurun waktu 1-2 tahun, bisa saja terjadi perubahan yang pesat. Lalu bagaimana perkembangan yang terjadi dalam setengah abad lebih? Juga, bagaimana sebuah organisasi mampu melewati zaman yang selalu berubah?.

Supaya lebih jelas, saya meminjam kisah yang dialami umat manusia saat memasuki revolusi agrikultur – yang saya kutip dari buku “Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia” oleh Noval Yuah Harari. Saat itu manusia beranggapan bahwa, mereka akan menjadi makmur saat bercocok tanam dan hidup menetap. Mereka tidak perlu memikirkan krisis makanan seperti saat berburu dan berpindah tempat. Namun, yang terjadi adalah mereka tetap saja menemui permasalahan. Salah satu faktornya, mereka malah berkembang biak lebih banyak, lalu kebingungan untuk membagi hasil panen. Sial, mereka perlu berpikir lagi untuk mencapai kata makmur.

Dari cara berpikir yang sama, kita juga bisa mengambil contoh seperti kemajuan transportasi. Manusia berpikir bahwa kendaraan seperti mobil, motor dan lainnya bisa menjadi solusi untuk menjangkau tempat yang lebih luas. Hanya duduk santai tanpa berkeringat. Namun yang terjadi setelahnya adalah kemacetan, polusi lingkungan, dan hutang kredit yang belum lunas. Benar bahwa manusia lebih mudah menjangkau tempat yang jauh, tapi kita perlu menyadari bahwa sebuah solusi pun tidak menutup kemungkinan untuk memicu persoalan yang lebih baru.

Desainer Ferry Martasonar

Tradisi keilmuan IPM Desainer Ferry Martasonar

Poin yang bisa diambil adalah tidak ada solusi yang final. Bahkan ketika manusia menemukan jawaban konkret terhadap permasalahan hari ini, pasti ada masalah lain yang bermunculan di kemudian hari. Inilah yang saya maksud sebagai tantangan yang selalu baru. IPM sebagai gerakan ilmu harus menyadari bahwa dalam spirit membangun peradaban, kita tidak boleh berhenti berpikir.

Sejenak saya membayangkan jika IPM tidak memiliki tradisi keilmuan yang kuat. Mungkin saja sudah kepayahan mengikuti tren peradaban yang berkembang. Bisa jadi, sudah “tutup buku” jauh-jauh hari. Maka dari itu, perlu kesadaran bahwa betapa bersyukurnya IPM lahir sebagai pembawa visi keilmuan, yang kemudian bisa menghasilkan gagasan maju dalam melewati segala macam zaman, bahkan melampauinya.

Tradisi keilmuan menjadi hal pokok bagi segala aspek. Mengutip dari Republika.co, Ibnu Khaldun dalam kitabnya “Muqaddimah” mengatakan bahwa substansi peradaban Islam terletak pada ilmu. Begitu juga kata Imam Syafi’i dalam bukunya “Diwan Imam Asy-Syafi’i”, “Demi Allah, hakikat seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa. Jika kedua hal itu tiada padanya, tak bisa disebut pemuda”.

Mengenai serba-serbi keilmuan dalam tubuh IPM, tentu sangat pas bila mengutip dari buku “Nun: Tafsir Gerakan Al-Qalam” yang ditulis oleh Azaki Khoirudin. Dipaparkan bahwa dalam tanfidz Muktamar IPM (2000) adalah gerakan yang memiliki visi keilmuan, yang didasari pada pandangan mendasar IPM terhadap ilmu pengetahuan. “Sebagai organisasi keilmuan, gerakan IPM bercorak intelektualisme dan aktivisme yang dijalankan dengan seimbang. Corak tersebut terimplementasi dalam sikap ilmiah, kritis, kreatif dan inovatif”.

Untuk memperjelas jati diri IPM, saya ingin menyertakan Teologi Al-Qalam yang ditulis dalam buku tersebut. Teologi ini memiliki tiga karakter islam berkemajuan. “Boleh dikatakan, teologi Al-Qalam adalah teologi Islam yang berkemajuan. Sehingga, menjadi pena yang membebaskan, pena yang memberdayakan dan pena yang memajukan”.

Pena yang membebaskan, yaitu sebuah gerakan pelajar yang mampu membebaskan kondisi pelajar yang tertindas, terlemahkan, dan termarjinalkan. Menurut Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. yang mengutip Asghar Ali Engineer, mengatakan bahwa Islam adalah agama pembebasan. Sebagai sebuah teologi yang revolusioner dan memiliki kemampuan untuk mengubah status-quo dan membebaskan komunitas yang tertindas.

Pena yang memberdayakan, yaitu suatu gerakan dengan langkah mengangkat keberadaan pelajar menjadi berdaya, dengan menggunakan aset dan potensinya melalui gerakan-gerakan mandiri dan berkelanjutan. Sehingga pelajar yang sudah berdaya, mampu menjamin kehidupan yang lebih baik.

Pena yang memajukan, yaitu gerakan yang berorientasi sebagai pemecahan persoalan dan tantangan pelajar. Bagi Kuntowijoyo, yang menjadi acuan terhadap kemajuan atau peradaban adalah transendensi. Yaitu dengan memusatkan diri pada Tuhan, serta berorientasi kepada kemanusiaan dan amal. Suatu nilai kemajuan dapat dilihat melalui makna dan prestasi kemanusiaan.

Pada paragraf yang paling akhir ini, saya mengajak teman-teman semua untuk memahami tradisi keilmuan yang mengakar di tubuh IPM. Yang dilanjutkan dengan pengamalan pada semua sudut kehidupan. Tidak pernah berhenti berpikir dan selalu berpijak pada kaidah sains dalam menghadapi segala tantangan zaman. Mari kita rawat visi keilmuan IPM.

Oleh :

Fery Martasonar

Ketua Bidang PIP PW IPM Jawa Timur periode 2018-2020

1 tanggapan pada “Tradisi Keilmuan IPM: Menjawab Tantangan yang Selalu Baru”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *