Valentine Bukan Untuk Golonganmu Saja

IPMJATIM.OR.ID – Hari Valentine atau kerap dijuluki dengan nama hari kasih sayang yang biasanya ditujukan ke pasangan sudah sangat lama membumi di kalangan remaja di Indonesia. Dalam sudut pandang positif, hari Valentine banyak dirayakan dengan memberi coklat dan bunga oleh laki-laki ke pasangan wanitanya sebagai bentuk kesetiaan , cinta, dan kasih sayang. Dalam sudut pandang negatif tentu penggunaan istilah agama bisa menjelaskan semuanya seperti mendatangkan mudharat, mendekati zina, dan kemaksiatan yang lain. Tentu hal ini yang sering dikampanyekan oleh orang yang menolaknya terutama aktivis islam.

Aktivis islam biasanya mengkaitkan perayaan Valentine dengan hadist segala urusan eksternal antar agama yaitu hadist, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), dan alasan kuat untuk menghindari mudharat dari Valentine adalah Surat Al Isra ayat 32, dengan tafsir Al Mishbah oleh Muhammad Quraish Shihab: “Janganlah kalian mendekati zina dengan melakukan hal-hal yang mengarah kepadanya. Sebab zina adalah perbuatan keji yang sangat jelas keburukannya. Jalan itu adalah merupakan jalan yang paling buruk.”. tentu semua orang sepakat akan hal ini, siapa yang mau dengan sengaja dan konyol mau terjerumus dalam dunia kemaksiatan?.

Sebenarnya alasan dalam sudut pandang agama sudah cukup detail menjelaskan kenapa ada larangan untuk ikut merayakan hari Valentine, sayangnya dasar ini saja tidak cukup mengubah pandangan remaja secara radikal (mendasar). Masih ada hal yang mengganjal/tidak puas bahkan keraguan untuk hanya menggunakan dasar agama sebagai fundamen menolak secara tegas perayaan Valentine. Menurut penulis perlu ada pendekatan kesadaran yang lebih persuasif untuk membentuk kepribadian yang bukan hanya menolak dalam konteks tekstual namanya saja. Karena selain valentine, ada pula hari-hari lain yang merupakan budaya luar yang mirip dampaknya dengan valentine. Kesadaran kritis menghadapi budaya baru mutlak dibutuhkan remaja khususnya pelajar.

Beberapa tahun ini sudah banyak kelompok pelajar islam termasuk IPM yang sadar akan dampak yang ditimbulkan oleh peringatan hari-hari tertentu yang merupakan adaptasi dari budaya luar karena konsekuensi global dalam konteks keterbukaan informasi. Kampanye anti valentine, anti mengucapkan selamat natal, dan anti-anti yang lain, yang menurut mereka bertentangan dengan nilai agama. Tentu hal ini sangat baik untuk kesadaran dakwah islam yang memproteksi akhlak dari kultur yang berpotensi merusaknya. Dan penulis sepakat bahwa budaya lain yang mengancam akidah dan akhlak harus kita tolak.

Merupakan kemajuan dakwah islam pula karena kelompok pelajar atau mahasiswa islam yang menyuarakan penolakan atas dampak buruk valentine membentuk gerakan-gerakan yang mendukung dalam hal yang serupa. Misalnya gerakan pelajar tanpa pacaran, tidak masalah gerakan ini ada karena alasan logisnya paling tidak bisa mencegah atau menurunkan angka kehamilan dibawah umur dan dampak lain sejenisnya, atau pelajar bisa lebih fokus belajar karena tidak perlu ada pikiran tambahan mengenai pasangannya, akhirnya prestasi bisa meningkat.

Berjalannya waktu muncul kesadaran lain atas perhatian yang diperlukan untuk gerakan ini. Kita tidak hanya perlu memikirkan dampak buruk dan baik atas kampanye anti valentine, penting juga memikirkan bagaimana dampak horizontal dan vertikal terkait ini. Kita perlu memikirkan bagaimana gerakan-gerakan ini berdampak lintas identitas dengan apa yang kita miliki, semisal untuk sudut pandang satu agama yang dikampanyekan belum tentu menjawab untuk pemeluk agama yang lain, bahkan bisa saja mendatangkan perselisihan karena perbedaan pendapat dan tidak ada kesadaran toleransi pemikiran karena luput diperhatikan saat menguatkan sudut pandang agamanya. Apalagi dampak sosial ekonomi juga berpengaruh, dalam hal ini misalnya petani bunga dan buruh pabrik cokelat akan mendapat dampak ekonomi yang tidak bisa dijawab dengan hal-hal kebaikan yang dihasilkan dari kampanye menolak Valentine. Itulah mengapa penulis tekankan lagi bahwa wajib ada sumbangsih pemikiran dengan sudut pandang yang beragam untuk menentukan segalanya. Silahkan mengeluarkan gagasan-gagasan terbaik tanpa menimbulkan kegaduhan, “Nolak yo nolak, tapi ojo nemen-nemen lah”.

Dari awal, penulis tidak pernah menjudge bahwa Valentine ini buruk 100% atau sebaliknya. Jangan hanya terpaku pada valentine-nya, kerena bisa saja dampak buruk yang sama terjadi di hari lain. Semua hal perlu ada pertimbangan dari banyak sudut pandang agar memperoleh kesepakatan Universal dan terhindar dari klaim sepihak karena sempitnya bidang keilmuan yang membedahnya. Bagaimana ruang lingkup dari gerakan tersebut perlu diperhatikan juga, dengan siapa dan untuk siapa. Media sosial bukan untuk golonganmu sendiri, mayoritas harus adil terhadap ruang publik dan minoritas, mayoritas dan minoritas harus arif dan bijaksana juga (tidak menganggap didiskriminasi kebudayaannya sehingga merasa mendapat ketidakadilan) karena luasnya media masa berlaku pula luasnya ruang untuk diskusi.

Kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah sebagai anak kandung dari Muhammadiyah perlu mewarisi sifat arif dan bijaksana dalam berdakwah seperti orang tuanya. Artinya jika mengangkat isu-isu tentang akulturasi budaya dan lintas kepercayaan di ruang lingkup pelajar, IPM harus tampil di muka dengan membawa gagasan-gagasan cerdas, kritis, dan lengkap guna menjawab dan meluruskan kerancuan budaya yang terjadi di masyarakat dan menembus kemelut sampai bisa diterima oleh lintas identitasnya.

Oleh :

Rizqy Anwar Hidayatullah

Bidang Organisasi PW IPM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan