Skip to main content

IPMJATIM.OR.ID – Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jawa Timur resmi dibuka di Aula BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026). Di balik gegap gempita pembukaan, Ketua Umum PW IPM Jawa Timur, M. Hengki Pradana, menyampaikan orasi yang menyentuh sisi emosional dan strategis para kader.

Hengki membuka pidatonya dengan refleksi mendalam atas perjalanan 916 hari kepengurusannya. Bagi Hengki, angka tersebut bukan sekadar durasi kalender, melainkan bukti nyata dari konsistensi perjuangan yang melewati berbagai fase pasang surut.

“Terhitung 916 hari kami berlayar bersama IPM. Ada masa ketika perjalanan terasa mudah, ada pula saat perjalanan terasa berat. Namun, satu-satunya bahan bakar yang membuat kami bertahan adalah cinta. Cinta kepada Ikatan, cinta kepada Persyarikatan, dan cinta kepada masa depan,” ungkap Hengki di hadapan ratusan peserta Musywil.

Ia menekankan bahwa organisasi bukanlah tempat untuk mencari popularitas, melainkan ladang pengabdian yang membutuhkan ketulusan total. Baginya, dampak nyata dari sebuah organisasi hanya bisa lahir dari mereka yang mengedepankan keikhlasan di atas segala kepentingan pribadi.

“Kami meyakini bahwa pengabdian yang selalu kita tampakkan lahir dari ketulusan. Siapa yang mampu bertahan dan memberikan dampak bagi masyarakat, dialah yang benar-benar mengabdikan dirinya,” tegasnya.

Menanggapi Musywil ke-24 ini, Hengki memberikan perspektif yang berbeda. Ia menolak jika forum tertinggi di tingkat wilayah ini hanya dianggap sebagai ritual suksesi kepemimpinan belaka. Ia menantang para kader untuk menjadikan Musywil sebagai momentum “reinkarnasi” gagasan.

“Musywil ke-24 bukan semata-mata transisi kepemimpinan. Ini adalah harapan baru. Kami ingin IPM menjadi rumah pembelajaran yang nyaman, laboratorium kepemimpinan yang progresif, sekaligus mercusuar bagi seluruh IPMawan dan IPMawati di Jawa Timur,” jelasnya.

Mengutip pemikiran inspiratif Buya Hamka, Hengki mengingatkan kader IPM untuk tidak terjebak pada rutinitas yang monoton. Ia menuntut kader untuk memiliki orientasi kebermanfaatan yang melampaui standar organisasi pada umumnya.

“Kalau hidup sekadar hidup, kera di hutan juga hidup.’ Begitu pula dengan IPM. Kalau hanya sekadar melaksanakan Musywil atau mencalonkan diri sebagai formatur, itu hal biasa. Yang dibutuhkan adalah kesungguhan untuk mengabdi dan membawa perubahan nyata bagi bangsa,” tutur Hengki dengan nada menggebu.

Menutup pidatonya, Hengki menyerukan agar tema Musywil “Kiprah Pelajar Gerbang Baru Nusantara” tidak hanya menjadi jargon, melainkan manifestasi dari tanggung jawab besar kader IPM sebagai penjaga masa depan. Ia menutup orasi dengan kalimat yang disambut tepuk tangan riuh: “Salam cinta, salam juang. Karena dengan cinta kita berjuang!” Tutupnya

*Puskominfo

Leave a Reply