Skip to main content

IPMJATIM.OR.ID – Kritik keras terhadap kebijakan publik adalah hal lumrah dalam iklim demokrasi. Namun bagi kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), ketajaman berpikir wajib dibalut dengan keluhuran budi. Pesan itulah yang dilontarkan langsung oleh Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Prof. Dr. dr. Sukadiono, M.M. saat membuka Musyawarah Wilayah (Musywil) XXIV IPM Jatim di BBPPMPV BOE Malang, Sabtu (4/7/2026).

Ayahanda Sukadiono mengingatkan khitah kader Muhammadiyah yang harus adaptif namun tetap memegang prinsip. Menurutnya, IPM Jatim selama ini telah menunjukkan perkembangan yang membanggakan dan menjadi teladan bagi wilayah lain. Namun, tantangan ke depan menuntut gerak organisasi yang lebih taktis.

“Salah satu karakter Muhammadiyah adalah kritis kooperatif, bukan kontradiktif. Karakter ini sangat diperlukan dalam roda organisasi, khususnya di IPM, ketika menyikapi maupun memberikan masukan terhadap berbagai kebijakan,” tegas Sukadiono di hadapan ratusan peserta Musywil.

Sukadiono juga menyoroti fenomena aktivis muda yang kerap kebablasan dalam menyampaikan aspirasi. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tidak akan punya nilai jual jika minus etika. Suko meminta para kader untuk tidak asal hantam dan melayangkan kritik tanpa dasar analisa yang kuat.

“Adab lebih tinggi daripada ilmu. Jangan memberikan kritik terhadap sebuah kebijakan sebelum benar-benar memahaminya. Seorang intelektual yang tidak mengedepankan adab tidak ada artinya,” cetus mantan Rektor UM Surabaya tersebut.

Ia menambahkan, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah tidak boleh diekspresikan dengan caci maki. Ada garis demarkasi yang jelas antara bersikap kritis dengan menyerang kehormatan personal.

“Boleh kita tidak puas dengan kebijakan pemerintah, boleh kita mengkritisinya, tetapi jangan sampai kalimat yang kita sampaikan menyakiti hati para pemimpin. Milikilah iman terlebih dahulu, kemudian lanjutkan dengan ilmu. Jangan sampai kader-kader IPM Jatim tidak mampu mengontrol ucapannya,” wanti-wanti Suko.

Selain perkara adab, ia mendorong seluruh kader untuk terus haus akan ilmu pengetahuan. “Semakin kita memperbanyak ilmu, maka semakin kita merasakan bahwa ilmu kita masih kurang. Semakin kita memperdalam ilmu, maka semakin kita mengerti bahwa kita masih perlu banyak belajar,” imbuhnya.

Kendati memberikan catatan kritis soal etika, Sukadiono tidak pelit pujian. Ia mengapresiasi tinggi performa PW IPM Jatim periode ini yang dinilai sukses menjaga gengsi Jatim sebagai barometer dan kiblat pergerakan pelajar nasional.

“PW IPM Jatim selalu menjadi inspirasi bagi PWM yang lain. Oleh karena itu, IPM Jatim harus terus menjadi inspirasi bagi IPM di seluruh Indonesia. Boleh Ketua Umum berasal dari Sulawesi, tetapi PW IPM Jatim harus selalu menjadi inspirasi,” guraunya yang disambut aplaus meriah forum.

Di akhir orasinya, Sukadiono menantang para kader IPM untuk tidak sekadar menjadi penonton atau komentator, melainkan turun langsung menjadi pemecah masalah (problem solver) di tengah masyarakat dengan penuh keikhlasan.

“Orang yang memiliki kepekaan dan kepedulian kepada orang lain, niscaya jalannya akan dipermudah oleh Allah. Jadilah kader Muhammadiyah yang selalu peduli kepada sesama. Di mana pun kita berada, kita harus menjadi solusi, menjadi problem solver. Tunjukkan bahwa dengan lambang matahari, kader Muhammadiyah mampu menjadi matahari yang menerangi sekitarnya. Apabila kita melakukan segala sesuatu dengan penuh keikhlasan, insyaallah segala urusan akan dimudahkan oleh Allah SWT,” pungkasnya.

*Puskominfo

Leave a Reply